Perspektif Hunian yang Kuat Pasca Gempa 28 September

740003_720

Seorang pria membersihkan puing-puing rumahnya yang rusak akibat gempa Palu dan likuifaksi di Balaroa, Palu, Sulawesi Tengah (Tempo)

Seperti yang dikatakan Ahmad Arif (2019) dalam Memaknai Bencana bahwa bencana alam yang bersifat katastropik mempunyai daya ubah. Tidak hanya perubahan bentang alam, tetapi terutama pada kesadaran manusia. Dimana diharapkan nantinya masyarakat lebih tangguh dalam menghadapi bencana. Dikutip dari Almanak Bencana dan Sajak-Sajak Renjana (2019).

Salah satu perubahan tersebut adalah cara pandang masyarakat terhadap hunian yang kuat (rumah tinggal) khususnya daerah pedesaan di Kabupaten Sigi.

“Kami tidak mau lagi barumah batu (Rumah Batu Bata), pakai papan saja. Kami takut sudah”. Kata salah seorang warga Desa Salua pasca gempa 28 September 2018.

Melihat rumah warga yang hancur membuat saya merasa pernyataan di atas adalah wajar. Bagaimana tidak, sebagian besar rumah yang hancur adalah rumah dengan dinding batu bata. Uniknya, rumah yang pada saat itu semi permanen dengan dinding bata sebagian, dan dinding papan kayu sebagian lagi, hanya hancur pada dinding bata saja. Dinding papan bagian atas tetap kokoh menggantung. Tidak heran dengan demikian masyarakat akan memilih rumah kayu.

Tidak dipungkiri bahwa kayu memiliki daya tahan yang lebih terhadap gempa. Semua Ahli Struktur pasti tahu tentang hal itu. Hal ini ditandai dengan massa kayu yang lebih ringan ketimbang material lain seperti bata atau beton bertulang. Namun, kita harus ingat pula bahwa harga kayu pada saat ini juga mulai melonjak tinggi. Apalagi untuk hunian dengan skala besar, membutuhkan pengorbanan hutan kayu yang banyak pula.

Di sisi lain bagi masyarakat di perkotaan atau setidaknya di pinggiran kota, mereka lebih memilih rumah batu bata dengan rangka beton bertulang yang lebih “kuat” dari biasanya. Hal ini tidak hanya terjadi untuk rumah tinggal saja, tetapi juga pada fasilitas umum seperti tempat ibadah ataupun bangunan sekolah.

Dengan memasang besi diameter 12 mm ulir, dianggap rumah akan bertahan dan kuat bila diterjang gempa besar. Maklum, sebelum gempa sebagian besar besi tulangan yang dipakai lebih kecil yaitu diameter 6 mm tulangan pokok, dengan sengkang diameter 4 mm jarak 35 cm. Realita ini saya temukan setelah melihat hasil assesment retrofitting salah satu yayasan.

Takut adalah wajar sebagai manusia, namun kita harus tetap memperhatikan kaidah-kaidah dalam membangun rumah dan pertimbangan ekonomis.

Menurut Prof. Teddy Boen (2016), penggunaan besi ulir untuk tulangan utama kurang cocok kalau digunakan dengan beton mutu rendah. Hal ini berkaitan dengan pentingnya Daktilitas komponen struktur. Dikutip dari Belajar Dari Kerusakan Akibat Gempa Bumi Bangunan Nir-Rekayasa (2016).

Menurut pengalaman beliau selama puluhan tahun bahwa mutu beton umum yang digunakan adalah berkisar 75 – 125 Kg/cm2, dengan kuat leleh baja 240 MPa. Mutu beton tersebut sangat rendah terlebih lagi dengan pengaruh kualitas pekerjaan “Kontraktor” ataupun masyarakat umum.

Penyataan di atas berbanding terbalik dengan pernyataan tenaga ahli yang sebelumnya sempat saya minta konsultansi. Mereka mengatakan bahwa menurut “Standar” dari pemerintah tulangan minimum adalah diameter 12 mm ulir.

Entah “standar” mana yang mereka maksud. Sampai saat ini saya belum menemukan standar tersebut.

Di daerah Kota Palu dan sekitarnya terlihat pola yang sama saat rekonstruksi rumah di Aceh. Seperti yang telah diperingatkan oleh Prof. Teddy Boen dalam bukunya tersebut, bahwa tulangan ulir digunakan karena “konsultan” asing tidak menyadari hal ini. Pada kasus di Palu adalah konsultan negeri sendiri.

Konsultan asing terbiasa bekerja di lingkungan yang lebih maju dengan mutu beton minimum untuk struktur lebih besar dari 300 Kg/cm2. Kemudian informasi ini disebarkan secara luas di antara LSM. Hal ini merupakan salah satu kasus pemberian informasi yang tidak benar dan menimbulkan kesimpangsiuran.

Dalam perencanaan dibuat sedemikian rupa agar besi tulangan akan mencapai leleh terlebih dahulu dari pada beton. Dengan demikian diharapkan akan tercapai daktilitas, ditandai dengan regangan yang lebih sebelum gagal pada beton. Besi tulangan yang mencapai leleh ditandai dengan retak pada permukaan balok atau kolom beton. Dengan adanya retak tersebut menjadi peringatan dini bagi masyarakat sebelum runtuh.

Besi ulir (sirip) diameter 12 mm, mempunyai nilai kuat tarik yang tinggi yaitu sekitar 400 MPa. Dengan mutu besi tulangan yang tinggi tersebut, maka beton akan runtuh terlebih dahulu. Sering disebut dengan “getas” pada beton. Runtuh pada beton mempunyai sifat yang tiba-tiba, seperti bom waktu yang meledak tanpa peringatan. Dengan demikian akan membahayakan masyarakat. Selain itu penggunakaan besi ulir juga dinilai tidak ekonomis untuk rumah tinggal sederhana.

Dengan rasa takut yang berlebih, bangunan dibuat lebih kuat namun tidak memperhatikan kaidah-kaidah struktur. Sehingga ketakutan tersebut bahkan mengakibatkan bahaya baru bagi masyarakat.

Lalu apa solusi tentang permasalahan ini? Silahkan kunjungi artikel saya sebelumnya yaitu tentang Masyarakat Biasa Juga Butuh Insinyur Sipil.

Sumber:

Masyarakat Biasa Juga Butuh Insinyur Sipil

Membangun rumah bukan hanya sekedar membangun. Jika itu rumah pribadi maka Anda sedang mempertaruhkan keselamatan keluarga Anda. Dan apabila itu bangunan sipil seperti Sekolah, maka kita sedang mempertaruhkan keselamatan siswa yang belajar beserta gurunya. Dan boleh jadi diantara siswa atau guru tersebut adalah keluarga Anda.

Banyak orang yang berfikir bahwa untuk membangun rumah satu atau dua tingkat cukup dengan tenaga tukang saja. Dengan pengalaman tukang yang banyak, dianggap sudah mampu membuat rumah kuat dan aman.

Lalu bagaimana dengan bangunan tahan gempa?

Realita di lapangan banyak ditemukan korban jiwa disebabkan oleh bangunan “rumah biasa” yang runtuh pada saat gempa terjadi. Atau dengan kata lain masyarakat dengan tingkat ekonomi rendah yang lebih banyak mendapatkan kerugian.

jogja

Kerusakan Rumah Akibat Gempa Yogyakarta Mei 2006

ilustrasi-gempa-sumbar harnas co

Kerusakan Rumah Akibat Gempa Padang September 2009 (sumber: harnas.co)

lombok liputan 6

Kerusakan Rumah Akibat Gempa Lombok Juli 2018 (sumber: www.liputan6.com)

gempa palu kompas

Kerusakan Rumah Akibat Gempa Palu September 2018 (sumber: www.kompas.com)

halmahera selatan mongabay

Kerusakan Rumah Akibat Gempa Halmahera Selatan Juli 2019 (sumber: www.mongabay.com)

Sangat ironi memang bahwa masyarakat dengan tingkat ekonomi rendah, tetapi berkeinginan membangun “rumah batu“. Dimana rumah batu dianggap mewakili status sosial mereka. Akibatnya rumah rangka beton bertulang dengan dinding bata tetap terbangun, namun dengan mutu material yang sangat rendah dan besi tulangan serta detailing yang tidak memadai.

Alih-alih menyewa ahli struktur, sedangkan kebutuhan material bangunan saja sulit terpenuhi.

Insinyur Sipil dalam hal ini seorang Ahli Struktur adalah seorang yang mampu merancang sebuah bangunan agar tetap kuat, aman, dan ekonomis terhadap beban yang bekerja, termasuk beban yang diakibatkan oleh gempa. Selain itu Insinyur sipil juga berperan dalam proses kontruksi dan pengawasan.

Sekarang ini, Ahli Struktur (Engineer) kebanyakan hanya fokus pada pekerjaan gedung bertingkat banyak dengan dana yang banyak pula. Untuk melindungi investasi yang begitu besar dari kerusakan, maka disitu seorang insinyur sipil berperan.

Untuk itu masyarakat biasa diarahkan untuk mengikuti panduan tentang syarat bangunan tahan gempa yang telah disusun oleh pemerintah bekerja sama dengan tenaga ahli profesional. Dengan harapan panduan tersebut dapat diikuti dengan baik.

Panduan Konstruksi Nir-Rekayasa

Konstruksi Nir-Rekayasa terdiri dari atas bangunan rumah tinggal dan banguan komersial sampai dua lantai yang dibangun oleh pemilik, menggunakan tukang setempat yang tidak terlatih, menggunakan bahan setempat yang murah, dan tanpa campur tangan arsitek maupun ahli teknik/ahli struktur dalam perencanaan dan pembangunannya (Teddy Boen, 2009).

Konstruksi Nir-Rekayasa biasanya dibangun dengan biaya yang terbatas dan menggunakan bahan-bahan yang tersedia di tempat.

Setelah gempa padang 2009, kemudian diterbitkan buku panduan untuk bangunan Nir-Rekayasa yaitu “Persyaratan Pokok Rumah yang Lebih Aman”. Buku ini merupakan hasil kerjasama Direktorat Jenderal Cipta Karya Kementerian Pekerjaan Umum (PU) dan Japan International Cooperation Agency (JICA). Selain itu, diterbitkan pula dalam bentuk poster. Dapat didownload di bawah ini

Cover Buku Saku

Buku Saku Persyaratan Pokok Rumah yang Lebih Aman DOWNLOAD

Poster Membangun Rumah Tahan Gempa

Poster Persyaratan Pokok Rumah yang Lebih Aman DOWNLOAD

Panduan di atas merupakan standar yang berlaku untuk rumah tinggal satu sampai dua tingkat dan tentunya merupakan hukum yang harus dipatuhi oleh masyarakat.

Panduan tersebut diperuntukkan bagi masyarakat yang akan membangun rumah baru. Lalu, bagaimana dengan rumah yang telah rusak akibat gempa?

Memperbaiki Rumah Sederhana yang Rusak Akibat Gempa Bumi

Memperbaiki rumah yang rusak akibat gempa bukan hal yang tidak mungkin. Kebanyakan masyarakat karena trauma yang mendalam, akhirnya pemilik rumah memilih untuk merobohkan bangunan secara keseluruhan. Padahal rumah atau fasilitas umum tersebut dapat diperbaiki atau lebih dikenal dengan istilah Retrofitting.

Memperbaiki rumah yang rusak akibat gempa, sebaiknya dengan arahan dan pengawasan seorang Insinyur Sipil yang tentunya “Berkompeten“.

Tidak sedikit ditemukan juga tenaga ahli yang kurang memahami tentang bangunan Nir-Rekayasa dan akhirnya memberikan rekomendasi yang tidak benar serta terkadang lebih mahal.

Selain itu, faktor pelaksanaan juga sangat berpengaruh terhadap hasil. Dimana Kontraktor yang tidak terpercaya sehingga menghasilkan Mutu Pekerjaan yang rendah.

Panduan di bawah ini merupakan solusi terbaik yang dapat diikuti. Buku tersebut merupakan buku panduan tentang “Cara Memperbaiki Bangunan Sederhana yang Rusak Akibat Gempa Bumi“.

cara memperbaiki bangunan sederhana yang rusak akibat gempa bumi

CARA MEMPERBAIKI BANGUNAN SEDERHANA YANG RUSAK AKIBAT GEMPA BUMI DOWNLOAD

Masyarakat biasa dengan tingkat ekonomi rendah, dengan pengetahuan yang minim tentang konstruksi bangunan, sangat rentan terhadap bahaya runtuhan bangunan akibat gempa. Untuk itu seorang Insinyur Sipil diharapkan mampu memberikan solusi dengan pengetahuan yang dimilikinya. Dengan demikian diharapkan nantinya dapat mengurangi risiko akibat bencana gempa bumi.